« March 2008 | Main | May 2008 »

..Hari Keempat..

Aku berjalan.

Terus saja berjalan.

Tanpa kutahu di mana tujuan.

Hari keempat,

aku mengambil kesempatan.

Memberi kesempatan.

Akankah semuanya menjadi lebih baik?

Aku hanya ingin belajar,

menjadi lebih dewasa.

Itu saja.

Mampukah?

Kesempatan hanya sekali, bukan?

                            

..Hari Ketiga..

Belajar menjadi lebih dewasa.

Ternyata banyak goda.

Kekuatan cintanya,

cinta aku dan dia,

menggodaku untuk jadi tetap sama.

Ah, tidak!

Tidak boleh begitu.

Jadi dewasa tak semudah itu.

Prosesku harus tetap berjalan.

Walau,

hari kedua terlewati dengan maaf.

Dan memang,

sungguh tenang dan indah rasanya memaafkan.

Tapi, aku jadi bimbang.

Dia yang kucinta,

masih tetap setia.

Aku pun mencintanya.

Sayang,

pelajaranku belum selesai.

Aku tak mau terjebak dalam ranjau yang sama.

Membuat kecewa,

berujung luka.

Aku ingin dia mengerti.

Hari ketiga.

Bisakah aku meminta waktu?

Sejenak saja.

Bukan untuk apa,

hanya untuk jadi lebih baik untuknya,

andai memang aku bisa,

aku hanya ingin bersamanya.

Aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya.

..Hari Kedua..

Tak kusangka,

diriku benar-benar mencoba.

Begini memang seharusnya.

Tak sekadar bermain dengan kata.

Tapi wujudkannya menjadi nyata.

Belajar menjadi dewasa.

Benar tak mudah rasanya.

Aku mencintainya.

Menguatkan diri,

bukan dengan menghindarinya dalam pikir

dan mengingkarinya dalam hati.

Mungkin ini yang namanya belajar,

menjadi lebih dewasa.

Memang masih tahap awal,

sangat awal malah.

Hari pertama,

kucoba mencari pijakan.

Di mana seharusnya?

Hari kedua,

aku belajar memaafkan.

Memaafkan diriku,

berdamai dengan hatiku.

Aku mencintainya. Mencintainya dengan sangat.

Kunikmati rasa ini,

entah sampai kapan.

..Hari Pertama..

Belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Mencoba mengerti kedewasaan berpikir yang dilontarkannya.

Tak cukup mudah.

Aku menahan segalanya.

Rasa rindu yang membuncah.

Hati yang kehilangan.

Kecuali satu,

airmata.

Aku tak mampu menahan airmata.

Aku ingin tepati janji,

tak temuinya,

tak hubunginya lewat telepon seluler.

Lewat tulisan inilah aku bisa mengatakan semuanya.

Hari pertama,

berpikir segalanya.

Tentang aku dan dia.

Dan, semua keindahannya.

Memang siksa, tapi kunikmati airmata.

Tiap tetes yang tumpah.

Aku tak bisa berkata apa, selain...

Aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya.

Mencintainya dengan sangat.

Kalau tak kukatakan padanya,

itu karena aku mencoba,

mengerti dirinya.

Dan, menjalani proses menuju kedewasaan seorang Bianda Nadia Annisa.

Biarkan waktu yang jawab semua...

..Tak Sampai Lima..

Tahun keduaku pijakkan kaki di sana. Makin tampak apa yang tak pernah kuanggap tampak sebelumnya. Aku tak mengerti, kenapa rasakan ini di saatku ingin berhenti. Tak meragu sebenarnya, hanya saja ada sebongkah asa. Andai aku bisa, aku masih ingin mewujudkannya.
Ketakutanku tak sama. Tak akan pernah sama dengan kumpulan ketakutan rerata orang di sana. Aku tahu kalau aku hanya bisa berteriak tanpa suara. Walau asa ada, tak akan melambung tanpa tiupan ringan yang bersahaja. Itulah yang kutahu, tak akan pernah ada sahaja berdampingan dengan kerasnya kepala (halah, jangankan kerasnya kepala, hati pun rasanya ia tak punya).
Aku tak mengerti, apa sebenarnya yang dia mau. Begini salah, begitu salah. Benar menjadi miliknya. Benar hanya untuk anak kesayangannya. Di depan mata, entah kenapa dia begitu tega. Tak pernah menyadarikah dia? Tak adakah kaca di rumahnya?
Ugh! Bicara saja ia tak bisa, kecuali di 'belakang'ku tentunya. Ah, padahal aku ini apa? Aku ini siapa? Populer sekali menjadi bahan curhatannya? Sungguh aku tak pernah menyana, mengenal dia dengan segala kepicikannya. Haruskah aku berkata, 1000 kali aku akan memilih lainnya daripada harus bertahan dengan 'cacat'nya.
Inginku bertanya, "punya hatikah dia?" Tak mampuku meraba, mungkin memang hatinya sudah tak berbentuk sebenar-benar hati. Tanpa hatinya, memang dia tak akan membunuh atau sekadar menyakiti fisikku. Tapi, tanpa hatinya itu, dia membunuh semua potensiku, kemampuanku, dan segala aspek psikologis yang melekat dalam diriku. APA MAUNYA? (Ah, berteriak sekali lagi, tetap tak mampu bersuara). Asal tahu saja, dari kontinum satu sampai sepuluh, kuberi kau nilai TAK SAMPAI LIMA!

..Sepi tak Sendiri..

Tak seharusnya merasa sendiri di tengah keramaian. Tapi, setiap orang pasti pernah mengalami perasaan begitu. Terutama ketika ada yang mengganjal di hati, tak terungkap dan hanya terakumulasi hingga membuncah. Ah, biar saja! Toh itu sangat manusiawi bukan?

Kita sering meraba-raba sebuah akibat, padahal belum tentu itu hasil yang akan didapat. Aku pun kerap alaminya. Hingga tak jarang berpikir, betapa parnonya aku. IYA PARNO! Abisan, kadang kita cuma terbelenggu dalam ketakutan tanpa pernah berusaha melepaskan jeruji yang mengelilingi.

Terlalu betah dalam zona aman, itu juga yang sering bikin lelah hati. Tapi sekali lagi, itu sangat naluriah sekali. MANUSIAWI banget deh! Bagi yang enggan beranjak, nikmati saja kebosanan yang hinggap. Bagi yang BERANI menerobos keluar, itu satu langkah maju, bekal gapai hidup yang lebih baik.

Soal sepi di tengah keramaian. Coba minimalisir rasa itu. Karena, sebenarnya...kita tak pernah sendiri di dunia ini. Kalau berpikir bahwa CUMA kamu yang hadapi masalah 'disakiti pacar', masalah 'dicuekin gebetan', masalah 'ortu cerai', masalah 'dikhianati teman', masalah 'diBeTein atasan',...ITU SALAH!

Buka saja pintu rumahmu, bergaullah dengan sebanyak-banyak manusia, temukan banyak 'kembaran' yang punya nasib sama denganmu. KAMU NGGAK SENDIRI! NGGAK AKAN PERNAH SENDIRI! Selalu ada orang yang 'kembar' denganmu. So that, hadapilah masalahmu, jangan mengisolasikan diri di tengah keramaian.

Kecuali, mellow itu datang, tanpa mau berkompromi. Larilah sejenak, menangis di belakang, dan kembalilah pada hangatnya kebersamaan. Buka diri dan legakan hati, semua pasti ada jalan keluarnya.

Fuih, aku harus katakan ini. Parahnya, untuk refleksi diri juga. Hehehe...kadang aku merasa sangat mengenaskan pada kondisi tertentu. TAPI TERNYATA, tak cuma aku yang sedang atau pernah alami masalah itu. Yeah, karena pada dasarnya, sifat alamiah manusia sama saja. Pattern atau pola hidupnya pun sama. Maka, tak perlu sembunyi ^^

..Dalam Nafasku..

Apa yang paling dekat denganku di tiap waktu?

Nafas.

Ya, nafaslah yang paling dekat denganku.

Selalu menemani di tiap detikku.

Bayangkan,

ketika dalam nafasku ada kamu,

apa yang terjadi padaku?

Sulitku embuskan keluar nafas ini,

sesak,

tercekat!

Ya, ketika dalam nafasku ada kamu...

aku tak bisa buat apa,

lebih banyak tak berdaya,

hadapi siksa,

resapi luka,

tanpa mampu ber-asa.

Hatiku inginkanmu,

betapa tidak kalau dalam nafasku ada kamu.

Tapi logikaku tak inginkanmu,

kamu harus pergi.

Andai bisa kubunuh segera rasa ini,

tak perluku sakitimu,

tak perluku sakitinya,

tak perluku tergoda tuk teteskan airmata.

Tapi kau ada dalam nafasku,

bagaimana bisa aku membunuhmu?

(hanya ingin menulis agak anarkis, hehehe...)